Dalam sebuah hadits yang terdapat dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah radhiyallahu’anha bahwa Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam bersabda,
“Ada tujuh golongan orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari
tiada naungan selain dari naunganNya…di antaranya, seorang pemuda yang
tumbuh dalam melakukan ketaatan kepada Allah.”
Dalam sebuah hadits shahih dari Anas bin an-Nadhr RA, ketika perang
Uhud ia berkata, “Wah…angin surga, sungguh aku telah mecium bau surga
yang berasal dari balik gunung Uhud.”
Seorang Doktor bercerita kepadaku, “Pihak rumah sakit menghubungiku
dan memberitahukan bahwa ada seorang pasien dalam keadaan kritis sedang
dirawat. Ketika aku sampai, ternyata pasien tersebut adalah seorang
pemuda yang sudah meninggal -semoga Allah merahmatinya-. Lantas
bagaimana detail kisah wafatnya. Setiap hari puluhan bahkan ribuan orang
meninggal. Namun bagaimana keadaan mereka ketika wafat? Dan bagaimana
pula dengan akhir hidupnya?
Pemuda ini terkena peluru nyasar, dengan segera kedua orang tuanya
-semoga Allah membalas kebaikan mereka- melarikannya ke rumah sakit
militer di Riyadh. Di tengah perjalanan, pemuda itu menoleh kepada ibu
bapaknya dan sempat berbicara. Tetapi apa yang ia katakan? Apakah ia
menjerit dan mengerang sakit? Atau menyuruh agar segera sampai ke rumah
sakit? Ataukah ia marah dan jengkel? Atau apa?
Orang tuanya mengisahkan bahwa anaknya tersebut mengatakan kepada
mereka, ‘Jangan khawatir! Saya akan meninggal… tenanglah… sesungguhnya
aku mencium bau surga.!’ Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan ia
mengulang-ulang kalimat tersebut di hadapan pada dokter yang sedang
merawat. Meskipun mereka berusaha berulang-ulang untuk menyelamatkannya,
ia berkata kepada mereka, ‘Wahai saudara-saudara, aku akan mati, jangan
kalian menyusahkan diri sendiri… karena sekarang aku mencium bau
surga.’
Kemudian ia meminta kedua orang tuanya agar mendekat lalu mencium
keduanya dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Kemudian ia
mengucapkan salam kepada saudara-saudaranya dan mengucapkan dua kalimat
syahadat, ‘Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah. ‘ Ruhnya melayang kepada Sang Pencipta Subhanallahu wa Ta’ala.
Allahu Akbar… apa yang harus kukatakan dan apa yang harus aku
komentari… semua kalimat tidak mampu terucap… dan pena telah kering di
tangan… aku tidak kuasa kecuali hanya mengulang dan mengingat Firman
Allah Subhanallahu wa Ta’ala,
‘Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.’ (Ibrahim: 27).
Tidak ada yang perlu dikomentari lagi.”
Ia melanjutkan kisahnya,
“Mereka membawanya untuk dimandikan. Maka ia dimandikan oleh saudara
Dhiya’ di tempat memandikan mayat yang ada di rumah sakit tersebut.
Petugas itu melihat beberapa keanehan yang terakhir. Sebagaimana yang
telah ia ceritakan sesudah shalat Maghrib pada hari yang sama.
I. Ia melihat dahinya berkeringat. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah Salallahu’alaihi wassalam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin meninggal dengan dahi berkeringat.” Ini merupakan tanda-tanda Husnul Khatimah.
II. Ia katakan tangan jenazahnya lunak demikian juga pada
persendiannya seakan-akan dia belum mati. Masih mempunyai panas badan
yang belum pernah ia jumpai sebelumnya semenjak ia bertugas memandikan
mayat. Padahal tubuh orang yang sudah meninggal itu dingin, kering dan
kaku.
III. Telapak tangan kanannya seperti seorang yang membaca tasyahud
yang mengacungkan jari telunjuknya mengisyaratkan ketauhidan dan
persaksiaannya, sementara jari-jari yang lain ia genggam.
Subhanallah… sungguh indah kematian seperti ini. Kita bermohon semoga Allah menganugrahkan kita Husnul Khatimah.
Saudara-saudara tercinta… kisah belum selesai…
Saudara Dhiya’ bertanya kepada salah seorang pamannya, apa yang ia lakukan semasa hidupnya? Tahukah anda apa jawabannya?
Apakah anda kira ia menghabiskan malamnya dengan berjalan-jalan di
jalan raya? Atau duduk di depan televisi untuk menyaksikan hal-hal yang
ter-larang? Atau ia tidur pulas hingga terluput mengerjakan shalat? Atau
sedang meneguk khamr, narkoba dan rokok? Menurut anda apa yang telah ia
kerjakan? Mengapa ia dapatkan Husnul Khatimah yang aku yakin bahwa saudara pembaca pun mengidam-idamkannya; meninggal dengan mencium bau surga.
Ayahnya berkata,
‘Ia selalu bangun dan melaksanakan shalat malam sesanggupnya. Ia juga
membangunkan keluarga dan seisi rumah agar dapat melaksanakan shalat
Shubuh berjamaah. Ia gemar menghafal al-Qur’an dan termasuk salah
seorang siswa yang berprestasi di SMU’.”
Aku katakan, “Maha benar Allah yang berfirman,
‘Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah’
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun
kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan
janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh)
surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” Kamilah
Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya
kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya
apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari (Rabb) Yang Maha
Pengam-pun lagi Maha Penyayang.’ (Fushshilat: 30-32).”
DAPATKAN KISAH NYATA LAINNYA
SILAHKAN KLIK LINK BERIKUT >> http://enkripsi.wordpress.com/kisah-nyata/
(SUMBER: SERIAL KISAH TELADAN KARYA MUHAMMAD BIN SHALIH AL-QAHTHANI,
PENERBIT DARUL HAQ, TELP.021-4701616 sebagai yang dinukil dari Qishash wa ‘Ibar karya Doktor Khalid al-Jabir)
alsofwah.or.id
Tampilkan postingan dengan label cara bertaubat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cara bertaubat. Tampilkan semua postingan
Selasa, 02 April 2013
BALASAN SESUAI PERBUATAN
Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata :
وَمَنْ عَامَلَ خَلْقَهُ بِصِفَةٍ عَامَلَهُ اللهُ تَعَالَى بِتِلْكَ الصَّفَةِ بِعَيْنِهَا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
"Barang siapa yang menyikapi makhluk Allah (orang lain) dengan suatu sikap/sifat maka Allah akan menyikapinya dengan sikap tersebut pula di dunia dan di akhirat" (Al-Waabil As-Shoyyib hal 49)
Karenanya :
(1) Barang siapa yang memaafkan saudaranya maka Allahpun akan memafkannya.
Allah berfirman :
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" (QS An-Nuur : 22)
Bukankah engkau ingin dimaafkan dan diampuni oleh Allah?, maka maafkanlah dan ampunilah hamba-hambaNya..
Akan tetapi sikap memaafkan bertingkat-tingkat…
Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.comfiranda.com
وَمَنْ عَامَلَ خَلْقَهُ بِصِفَةٍ عَامَلَهُ اللهُ تَعَالَى بِتِلْكَ الصَّفَةِ بِعَيْنِهَا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ
"Barang siapa yang menyikapi makhluk Allah (orang lain) dengan suatu sikap/sifat maka Allah akan menyikapinya dengan sikap tersebut pula di dunia dan di akhirat" (Al-Waabil As-Shoyyib hal 49)
Karenanya :
(1) Barang siapa yang memaafkan saudaranya maka Allahpun akan memafkannya.
Allah berfirman :
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?" (QS An-Nuur : 22)
Bukankah engkau ingin dimaafkan dan diampuni oleh Allah?, maka maafkanlah dan ampunilah hamba-hambaNya..
Akan tetapi sikap memaafkan bertingkat-tingkat…
- Ada yang memaafkan akan tetapi masih menggerutu..
- Ada yang memaafkan akan tetapi tetap saja menyimpan dendam, hanya saja tidak membalas kesalahan saudaranya tersebut
- Ada yang memaafkan dengan sesungguh-sungguhnya, bahkan bersikap baik dengan saudaranya tersebut…, kesalahan saudaranya benar-benar ia lupakan…
- Ada yang memaafkan dan melupakan setelah ia berkesempatan untuk membalas. Allah berfirman
أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا
"Atau (jika engkau) memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa" (QS An-Nisaa : 149). Yaitu Allah Maha Pemaaf padahal Allah Maha Mampu Untuk membalas dan menyiksa
Maka…sejauh mana tingkat memaafkannya kepada saudaranya tersebut maka demikianlah Allah akan memaafkannya…
(2) Barang siapa yang menerima udzur saudaranya sehingga memaafkannya maka Allah pun akan menerima udzurnya tatkala di akhirat kelak. Semakin mudah ia menerima udzur saudaranya, maka semakin mudah pula Allah akan menerima udzurnya. Semakin ia mempersulit dan ketat dalam menerima udzur saudaranya maka demikian pula tatkala di akhirat semakin ketat dan sulit pula Allah akan menerima udzurnya
(3) Barang siapa yang menutupi aib saudaranya maka Allah juga akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.
Semakin banyak orang yang ia tutup aibnya, demikian juga semakin banyak aib seseorang yang ia tutupi, maka semakin banyak pula aibnya yang akan tertutupi di dunia dan akhirat.
Seseorang terkadang gatal untuk menceritakan aib saudaranya…terlebih lagi jika ia sedang bersengketa dengan saudaranya tersebut…
(4) Barang siapa yang membantu dan meringankan beban dan kesulitan saudaranya maka Allah akan meringankan bebannya di dunia sebelum di akhirat. Sejauh mana ia ringan dalam membantu…sejauh mana ia berkorban dalam membantu… sejauh mana ia tulus dalam membantu saudaranya maka demikianlah pula Allah akan menyikapinya…
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barang siapa yang membantu memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi hajatnya, barang siapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat, dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat" (HR Al-Bukhari no 2442 dan Muslim no 2580)
(5) Barang siapa yang mencari-cari kesalahan saudaranya, mengorek-ngorek aib saudaranya, maka demikian pula Allah akan mencari-cari kesalahannya di dunia sebelum di akhirat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلم يَدْخُل الإيمَانُ قَلْبَهُ ! لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ
"Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah mencari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya" (HR Abu Dawud no 4880)
(6) Barang siapa yang mempersulit urusan saudaranya…memperberat…terlebih lagi menzoliminya, menipunya…maka Allah akan mensikapinya demikian pula di dunia sebelum di akhirat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقِ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barang siapa yang menyulitkan (orang lain) maka Allah akan mempersulitnya para hari kiamat" (HR Al-Bukhari no 7152)
(7) Barang siapa yang merahmati hamba-hamba Allah (bahkan merahmati hewan) maka Allah akan merahmatinya (silahkan baca kembali artikel "Menebar kasih sayang")
(8) Barang siapa yang berinfaq (memberi sedekah) kepada hamba-hamba Allah maka Allah akan memberi harta kepadanya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا بْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقَ عَلَيْكَ
"Allah tabaaraka wa ta'aala berkata : Wahai anak Adam, berinfaklah maka akan diinfakan kepadamu" (HR Al-Bukhari no 4683 dan Muslim no 993)
Tentunya berinfak juga bertingkat-tingkat…barang siapa yang semakin banyak berinfak maka akan semakin diberkahi dan diperbanyak hartanya oleh Allah
(9) Barang siapa yang bergaya dengan sesuatu yang tidak ia miliki maka suatu saat Allah akan membongkarnya :
Umar bin Al-Khottoob berkata :
وَمَنْ تَزَيَّنَ لِلنَّاسِ بِمَا يَعْلَمُ اللهُ مِنْهُ غَيْرَ ذَلِكَ يَشِنْهُ اللهُ
"Barang siapa yang bergaya (menunjukkan sesuatu keutamaan/kebaikan) kepada manusia yang Allah tahu bahwasanya ia tidak demikian maka Allah akan membongkar keburukannya" (Taariikh Dimasyq 32/72, lihat juga Nashbur Rooyah karya Az-Zaila'i 4/81)
Tatkala seseorang menunjukkan sesuatu yang ternyata berlawanan dengan batinnya (hakekat dirinya yang sesungguhnya) maka Allah akan menyikapinya juga sebaliknya, yaitu Allah akan membawanya kepada lawan dari tujuannya. Tujuannya ingin bergaya agar dipuji maka Allah akan membongkar aibnya tersebut. (Lihat I'laam Al-Muwaqqi'in karya Ibnul Qoyyim 2/180-181)
Karenanya tatkala seorang bersikap berpura-pura dihadapan manusia, menunjukkan seakan-akan ia adalah seorang yang alim, seorang yang khusyu' dalam sholatnya, seorang yang zuhud terhadap dunia, seorang yang ikhlas (padahal hakekat dirinya tidak demikian, justru ia adalah orang yang jahil, tidak khusuk tatkala sholat karena pikirannya kemana-mana, cinta dunia dan tidak zuhud, dan ia seorang yang suka dipuji dan tidak ikhlas) maka suatu saat Allah akan membongkar hakekat dirinya tersebut. Sebagaimana ia menipu manusia, maka Allahpun akan menipunya.
(10) Barang siapa yang dzolim dan bengis terhadap manusia maka Allah akan menyiksanya dengan sadis juga. Para penguasa yang bengis dan sadis terhadap rakyatnya maka suatu saat ia akan merasakan kebengisan dan kesadisan tersebut menimpa dirinya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
اللَهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفِقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ
"Yaa Allah barang siapa yang menjadi wali/mengurusi perkara umatku lalu ia memberatkan mereka maka beratkanlah perkaranya, dan barang siapa yang mengurusi suatu perkara umatku lalu ia lembut kepada mereka maka lembutlah kepadanya" (HR Muslim no 1828)
Barang siapa yang membunuh rakyatnya dengan bengis dan sadis maka ia akan terbunuh pula dengan sadis. Jika ia selamat di dunia maka Allah akan menyiksanya dengan sadis di akhirat jika ia tidak bertaubat kepada Allah.
Kota Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-, 08-05-1434 H / 20 Maret 2013 M- Ada yang memaafkan akan tetapi tetap saja menyimpan dendam, hanya saja tidak membalas kesalahan saudaranya tersebut
- Ada yang memaafkan dengan sesungguh-sungguhnya, bahkan bersikap baik dengan saudaranya tersebut…, kesalahan saudaranya benar-benar ia lupakan…
- Ada yang memaafkan dan melupakan setelah ia berkesempatan untuk membalas. Allah berfirman
أَوْ تَعْفُوا عَنْ سُوءٍ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا
"Atau (jika engkau) memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa" (QS An-Nisaa : 149). Yaitu Allah Maha Pemaaf padahal Allah Maha Mampu Untuk membalas dan menyiksa
Maka…sejauh mana tingkat memaafkannya kepada saudaranya tersebut maka demikianlah Allah akan memaafkannya…
(2) Barang siapa yang menerima udzur saudaranya sehingga memaafkannya maka Allah pun akan menerima udzurnya tatkala di akhirat kelak. Semakin mudah ia menerima udzur saudaranya, maka semakin mudah pula Allah akan menerima udzurnya. Semakin ia mempersulit dan ketat dalam menerima udzur saudaranya maka demikian pula tatkala di akhirat semakin ketat dan sulit pula Allah akan menerima udzurnya
(3) Barang siapa yang menutupi aib saudaranya maka Allah juga akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.
Semakin banyak orang yang ia tutup aibnya, demikian juga semakin banyak aib seseorang yang ia tutupi, maka semakin banyak pula aibnya yang akan tertutupi di dunia dan akhirat.
Seseorang terkadang gatal untuk menceritakan aib saudaranya…terlebih lagi jika ia sedang bersengketa dengan saudaranya tersebut…
(4) Barang siapa yang membantu dan meringankan beban dan kesulitan saudaranya maka Allah akan meringankan bebannya di dunia sebelum di akhirat. Sejauh mana ia ringan dalam membantu…sejauh mana ia berkorban dalam membantu… sejauh mana ia tulus dalam membantu saudaranya maka demikianlah pula Allah akan menyikapinya…
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barang siapa yang membantu memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi hajatnya, barang siapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat, dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat" (HR Al-Bukhari no 2442 dan Muslim no 2580)
(5) Barang siapa yang mencari-cari kesalahan saudaranya, mengorek-ngorek aib saudaranya, maka demikian pula Allah akan mencari-cari kesalahannya di dunia sebelum di akhirat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلم يَدْخُل الإيمَانُ قَلْبَهُ ! لاَ تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ
"Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya akan tetapi iman belum masuk kedalam hatinya, janganlah kalian mengghibahi kaum muslimin, dan janganlah pula mencai-cari aib mereka, sesungguhnya barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim maka Allah akan mencari-cari kesalahannya, dan barangsiapa yang Allah mencari-cari kesalahannya maka Allah akan mempermalukannya meskipun ia berada di dalam rumahnya" (HR Abu Dawud no 4880)
(6) Barang siapa yang mempersulit urusan saudaranya…memperberat…terlebih lagi menzoliminya, menipunya…maka Allah akan mensikapinya demikian pula di dunia sebelum di akhirat.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقِ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
"Barang siapa yang menyulitkan (orang lain) maka Allah akan mempersulitnya para hari kiamat" (HR Al-Bukhari no 7152)
(7) Barang siapa yang merahmati hamba-hamba Allah (bahkan merahmati hewan) maka Allah akan merahmatinya (silahkan baca kembali artikel "Menebar kasih sayang")
(8) Barang siapa yang berinfaq (memberi sedekah) kepada hamba-hamba Allah maka Allah akan memberi harta kepadanya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَا بْنَ آدَمَ أَنْفِقْ أُنْفِقَ عَلَيْكَ
"Allah tabaaraka wa ta'aala berkata : Wahai anak Adam, berinfaklah maka akan diinfakan kepadamu" (HR Al-Bukhari no 4683 dan Muslim no 993)
Tentunya berinfak juga bertingkat-tingkat…barang siapa yang semakin banyak berinfak maka akan semakin diberkahi dan diperbanyak hartanya oleh Allah
(9) Barang siapa yang bergaya dengan sesuatu yang tidak ia miliki maka suatu saat Allah akan membongkarnya :
Umar bin Al-Khottoob berkata :
وَمَنْ تَزَيَّنَ لِلنَّاسِ بِمَا يَعْلَمُ اللهُ مِنْهُ غَيْرَ ذَلِكَ يَشِنْهُ اللهُ
"Barang siapa yang bergaya (menunjukkan sesuatu keutamaan/kebaikan) kepada manusia yang Allah tahu bahwasanya ia tidak demikian maka Allah akan membongkar keburukannya" (Taariikh Dimasyq 32/72, lihat juga Nashbur Rooyah karya Az-Zaila'i 4/81)
Tatkala seseorang menunjukkan sesuatu yang ternyata berlawanan dengan batinnya (hakekat dirinya yang sesungguhnya) maka Allah akan menyikapinya juga sebaliknya, yaitu Allah akan membawanya kepada lawan dari tujuannya. Tujuannya ingin bergaya agar dipuji maka Allah akan membongkar aibnya tersebut. (Lihat I'laam Al-Muwaqqi'in karya Ibnul Qoyyim 2/180-181)
Karenanya tatkala seorang bersikap berpura-pura dihadapan manusia, menunjukkan seakan-akan ia adalah seorang yang alim, seorang yang khusyu' dalam sholatnya, seorang yang zuhud terhadap dunia, seorang yang ikhlas (padahal hakekat dirinya tidak demikian, justru ia adalah orang yang jahil, tidak khusuk tatkala sholat karena pikirannya kemana-mana, cinta dunia dan tidak zuhud, dan ia seorang yang suka dipuji dan tidak ikhlas) maka suatu saat Allah akan membongkar hakekat dirinya tersebut. Sebagaimana ia menipu manusia, maka Allahpun akan menipunya.
(10) Barang siapa yang dzolim dan bengis terhadap manusia maka Allah akan menyiksanya dengan sadis juga. Para penguasa yang bengis dan sadis terhadap rakyatnya maka suatu saat ia akan merasakan kebengisan dan kesadisan tersebut menimpa dirinya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
اللَهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفِقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ
"Yaa Allah barang siapa yang menjadi wali/mengurusi perkara umatku lalu ia memberatkan mereka maka beratkanlah perkaranya, dan barang siapa yang mengurusi suatu perkara umatku lalu ia lembut kepada mereka maka lembutlah kepadanya" (HR Muslim no 1828)
Barang siapa yang membunuh rakyatnya dengan bengis dan sadis maka ia akan terbunuh pula dengan sadis. Jika ia selamat di dunia maka Allah akan menyiksanya dengan sadis di akhirat jika ia tidak bertaubat kepada Allah.
Abu Abdil Muhsin Firanda
www.firanda.comfiranda.com
Langganan:
Postingan (Atom)